Admin Admin KHASFIYA.COM

Dilematika PJJ : Udah Nggak Normal!

1 min read

dilematika pjj

Udah berapa bulan study from home guys? Lama banget ya. Semoga nggak pada bosen karena setiap hari harus mantengin layar hp yang datar itu mulu, hehe.

Di artikel kali ini aku mau ngeluarin sedikit unek-unek nih, pastikan baca sampai tuntas ya (intonasi maksa wkwkw).

Abstrak

Jadi, selama pandemi ini banyak sekolah yang menerapkan kegiatan belajar mengajar menggunakan sistem daring atau lebih dikenal dengan istilah PJJ (pembelajaran jarak jauh). Ya, gadget sukses dianggap sebagai solusi jitu di tengah kondisi darurat kini. Setuju?

Surga buat Kaum Rebahan

Yuk flashback sedikit ke jaman doktrinasi kalau kaum rebahan itu udah mirip kek sampah masyarakat yang perlu dibasmi. Okay lah aku setuju, setiap hari cuma rebahan aja nggak ada kerjaan emang merusak pemandangan banget. Badan tuh berasa pegel semua karena nggak ngelakuin apa-apa.

Dan tentu saja, jiwa kaum rebahan akan menentang keras stigma ini. Terserah sih. Aku cuma mau ngingetin aja, dulu kalian pernah bersikeras ngaku kalau rebahan itu boleh, bener, dan halal.

Nah, sekarang kalian udah diberi kesempatan seluas-luasnya buat rebahan, bahkan legal! bukannya sambil ngerjakan tugas dari guru, kok malah asyik keluyuran dan mengindahkan perintah sih? Amnesia kah?

Neraka buat Kaum Missqueen

Nggak kehitung lagi berapa banyak anak-anak yang memutuskan berhenti sekolah karena merasa sistem pendidikan hari ini telah mencekik mereka. Bahkan rata-rata dari mereka adalah anak para pekerja yang kena phk dan akhirnya menjadi pengangguran selama pandemi.

Singkatnya, buat makan aja nggak menjamin, apalagi bayar biaya sekolah.

Kalau hidup aja masih pontang-panting, harapan pendidikan maju bak negeri seberang hanya sebuah ke-bullshit-an semata. Catat!

Dilema buat Para Orangtua

Topik satu ini beneran menarik untuk dibahas. Why? Orangtua yang terbiasa menyerahkan penuh anak pada pihak sekolah, sekarang harus berperan sebagai guru bagi anaknya sendiri. Kerepotan? Pasti! Para orangtua cenderung mengalami shock pada fase awal dan bila tak segera beradaptasi dengan situasi, maka akan menimbulkan keparnoan berkepanjangan. Mulai dari,

  1. Takut anak tak dapat memahami materi,
  2. Takut anak tidak sanggup menyelesaikan tugas,
  3. Anak tak dapat naik kelas,
  4. Anak menjadi bodoh, dsb.

Pola pikir tersebut akan menjadi momok besar yang menyerang para orangtua, hingga dapat mengubah cara pandang terhadap anak, sering menyalahkan, “gitu aja kok nggak bisa sih”, “soal mudah kek gini masak nggak bisa?”, “kok jadi lemott banget semenjak di rumah” dan klimaksnya, tak segan untuk melakukan kekerasan secara verbal.

Tentu saja, entah itu kekerasan verbal maupun non verbal, keduanya membuat anak tidak nyaman dan tertekan. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Anak akan bermental rendah, cengeng, mudah menyerah dan terbentuklah karakter buruk lain akibat cara didik orangtua yang mengedepankan emosi dan arogansi.

Makanya,

Kalau si anak ditegur gurunya karena berlaku keliru, ya nggak papa. Diberi sanksi karena melanggar peraturan, ya nggak masalah. Dikasih hukuman karena salah, ya jangan marah dan main lapor aparat. Karena apa? Wong jadi guru lho nggak gampang.

Jangan karena menjunjung hak asasi, menjadikan kita tak manusiawi lagi.

Ngajarin anak sendiri aja lho susah, apalagi anak orang!

Abstrak Lagi

Gimana guys? Udah mikir? Nggak ada yang salah dan menyalahkan loh ya disini.. Kewajiban kita adalah terus berintrospeksi diri.

Mengakui kesalahan dan memperbaikinya merupakan cara paling elegan menikmati hidup.

Berada di posisi manapun kamu, jangan merasa paling benar. Karena emang nggak ada yang benar. Hidup akan selalu berputar. Kamu di posisi sekarang belum tentu sama dengan yang akan datang. So, nggak usah kebanyakan gaya.

Admin Admin KHASFIYA.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *