Admin Admin KHASFIYA.COM

Jangan Terlalu Berharap Banyak pada Manusia!

2 min read

jangan-berharap-pada-manusia

Hai sahabat seiman seislam. Kali ini saya akan membahas tentang harapan. Satu pesan paling penting yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah, “Jangan terlalu berharap banyak kepada selain Allah.”

Kenapa?

Karena kita akan kecewa. Jika kita terlalu berharap pada manusia, kita akan kecewa. Ekspektasi kita terlalu tinggi pada orang lain, sedang orang lain itu pada dasarnya tidak terlalu peduli dengan kita. Akhirnya yang ada adalah kekecewaan.

Jangan Terlalu Berharap Pada Manusia

Seringkali, kita menganggap orang lain adalah penolong, penyelamat, harapan, dan motivator. Memang secara visual demikian. Namun hakikatnya bukan seperti itu.

“Allah yang memberikan mereka kesempatan untuk menjadi penolong, penyelamat, dan motivator kita.”

Jadi, pada dasarnya semua dikembalikan ke Allah. Bukan selain-Nya.

Sehebat apapun manusia, mereka pasti memiliki satu titik dimana tidak bisa memuaskan semua orang. Nah itulah yang membuat kita tidak boleh terlalu berharap pada manusia.

Bayangan sempurna dari sosok sahabat, kekasih, ataupun partner kerja, tidaklah sekuat apa yang kita pikirkan. Manusia itu lemah, egois, dan naif. Jadi jangan terlalu berharap pada manusia.

Semua Tentang Aib yang Ditutupi

Jujur saja, saya pernah mengalami kejadian yang membuktikan bahwa Allah benar-benar menutupi aib saya. Kala itu, saya mau pergi membeli material di toko pinggir jalan raya (jelas ramai).

Dari rumah saya memakai celana olahraga. Dimana celana itu sobek di bagian belakangnya. Saya tidak menyadari hal itu. Tiba-tiba, terbersit sebuah keinginan untuk ganti celana. Padahal, mau ke toko bangunan, pakai celana kotor pun nggak masalah kan?

Tapi, tiba-tiba saya diarahkan untuk ganti celana. Jadi, tidak terjadi apapun ketika membeli material. Coba saja Allah tidak memberikan bersitan hati untuk ganti celana.

Pasti orang-orang mempermalukan saya. Soalnya mengenakan celana yang sobek.

Kejadian itu sangat sepele, tapi saya benar-benar merasa terselamatkan. Banget!

Sama dengan itu, hakikatnya semua manusia itu memiliki tindakan memalukannya sendiri. Tapi Allah tutup, sehingga harkat dan martabatnya tetap ada. Saya benar-benar tidak membayangkan jika tiba-tiba Allah membuka semua aib di muka bumi ini…

Sepertinya tidak bakalan ada orang mulia. Ditambah dengan sifat asli manusia yang suka melihat orang lain terhinakan. Maka, sangat salah jika terlalu berharap pada manusia. Karena manusia itu hanya terlihat baik ketika Allah tutupi aib-aibnya.

Menuhankan Manusia

Cukuplah kepada Allah kita bisa terlalu berharap. Karena manusia terlalu hina (karena aib-aibnya) untuk kita berikan harapan terlalu besar padanya.

Kita bisa mengibaratkan sebuah pernikahan. Sebelum menikah, manusia selalu berharap yang membahagiakan, keindahan ikatan, dan cinta. Ternyata setelah menikah, semua keburukan pasangan kelihatan. Akhirnya kecewa…

Bukan salah pasangannya. Tapi salah kita sendiri yang berharap banyak pada manusia. Seindah-indahnya, secantik-cantiknya, sesempurna-sempurnanya manusia, semua akan hilang ketika aib-aibnya diperlihatkan.

Sempurna hanya milik Allah. Maka jika kita menganggap ada manusia yang sempurna, kita telah menuhankan manusia. Jangan seperti itu…

Jika Kita Berharap pada Allah

Allah yang paling tahu kebutuhan kita lebih dari kita sendiri. Itulah alasan kenapa keinginan kita terkadang belum dikabulkan Allah. Karena mungkin belum waktunya atau kalau nggak gitu, mungkin kita tidak butuh apa yang kita inginkan.

Lebih parah lagi, mungkin apa yang kita doakan dan inginkan itu tidaklah baik untuk kita. Allah lebih tahu itu semua.

Kalaupun kita kecewa berharap kepada Allah, yakin lah suatu saat Allah akan memberikan kebenarannya. Sehingga membuat kita menangis malu dan merasa nggak tahu diri. Ingat firman Allah dalam surat Quran Surat Ghafir ayat 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Apapun doa yang kita panjatkan, yakinlah semua akan dikabulkan. Namun dengan timing yang tepat, dalam kondisi yang sangat tepat.

Manusia itu Tempat Salah dan Lupa

Wes tho, semua manusia itu tempatnya salah dan lupa. Manusia tidaklah layak untuk kita berikan harapan terlalu besar padanya. Kalau mereka salah, kalau mereka lupa, kita akan kecewa. Beneran!

Apalagi, manusia zaman sekarang itu kalau salah bukannya memperbaiki akan tetapi berdalih dan ngeyel. Nah kan, sudah salah membela diri pula. Sudah salah, tetep sombong lagi.

Makhluk kayak gitu, apakah pantas kita berikan harapan. Apakah sehat ketika kita mau berharap pada manusia yang sifatnya kek gitu?

Ketika ada orang lain yang terlalu berjasa pada kita, kita yuks kita berpikir seperti ini:

  • Jasa orang itu digerakkan oleh Allah sang pencipta semuanya
  • Bersyukur kepada Allah dengan cara berterima kasih
  • Jangan berharap untuk mendapat pertolongan pada manusia
  • Orang yang berjasa pun, bisa mati kapanpun, karena manusia itu lemah
  • Semua manusia itu sama, hanya amal yang membedakan
  • Hargai orang lain sewajarnya, jangan menuhankan mereka

Boleh Berharap Pada Manusia, Asal…

Dalam batas kewajaran. Mengharap adalah sifat asli manusia, nggak bisa dihilangkan. Kita berharap pada manusia boleh saja, asal masih dalam hal tekstual. Misal:

  • Berharap orang tepat waktu
  • Berharap bisa bekerja sama dengan baik
  • Berharap saling menghargai
  • Dan lain-lain

Itupun tidak boleh terlalu. Sewajarnya saja. Jangan sampai berharap penuh dan merasa mengharuskan semua kejadian sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Ingat, skenario Allah lebih kompleks, terstruktur, dan sangat detail ketimbang rencana kita yang ecek-ecek. Maka dari itu, kita hanya boleh beradaptasi dan menyesuaikan skenario Allah itu.

Admin Admin KHASFIYA.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *